Bisakah aku Seperti Dia...
PAHLAWAN YANG DIPAPAH
Maman Sunarman
Seseorang yang merdeka berkata
Liarkanlah pikiranmu
Jangan biarkan ia jinak oleh belenggu
Apapun yang usianya lebih dari sekedipan matamu
Dan dari tengah padang gurun terdengar seruan
Lapangkan jalan bagi kemerdekaan yang tak kan pernah lekang
Yang mana setiap insan berhak meraihnya
Kekekalan yang mengatasi batas ruang sang kala
Setelah dua ribu tahun ketika seruan itu berlalu
Berserulah dia dari gurun maya baru
Menantang kepercayaan demi sebuah kemerdekaan
Meretas belenggu jaman demi perlawanan
Orang pun tergerak oleh tulisannya
Pun angin turut membesarkan namanya
Bahkan api, menjulur lidahnya, membakar dada pendengarnya
Tak luput air pun turut menyejukkan hati pecintanya
Waktu laksana dewi bulan yang kian memabukkan
Dan lahirlah darinya janin liar baru
Dan lagi lagi, air angin api membesarkannya dalam susuan ibu bumi
Membawa fanatisme kemerdekaan hakiki
Tapi...
Bahkan anjing tak mau meremas remah-remah si kaya
Sejuta manik manik sukma terhempas melepas kecewanya
Seakan akan air kehilangan daya sembuhnya
Dan sang bayu tak mampu jua, api pun hilang panasnya
Rumput di muka bumi tak sudi bersaksi
Kemerdekaan yang liar pun kehilangan rohnya
Dimana sumbernya?
Ternyata...
Di hulu sungai itu
Pahlawan pujaan itu
Hanya mampu bersuara
Yang hanya bertopang kayu bersahaja
Dipapah kawanan gembala
Tanpa tongkat emas, topi topi cendekia
Mengapa?
